Perbedaan Umat Jangan Picu Perpecahan

Written By Unknown on Sabtu, 12 Juli 2014 | 17.10

*Laporan Dedi Sahputra Dari Kualalumpur

Saya telah memenuhi janji saya untuk menuliskan tiga laporan bersambung dari wawancara kami dengan mantan Perdana Menteri Malaysia Tun DR Mahathir Mohamad. Ketiganya tentang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres), MH370, dan tentang Islam.
Laporan kali ini saya tulis karena adanya permintaan untuk menulis sambungan wawancara, sekaligus mengutip beberapa poin penting yang rasanya belum saya sajikan kepada pembaca. Di Ramadhan seperti ini, kepada Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Harian Waspada Teruna Jasa Said, Mahathir tampaknya bersemangat untuk berbicara tentang kondisi umat Islam.
Baginya jumlah bilangan yang besar dari umat ini tidak bermakna apa-apa jika tanpa didayagunakan sebagaimana mestinya. Kenyataannya umat Islam justru saling bersiteru satu sama lain di berbagai tempat di dunia. Bahkan tidak jarang yang saling menumpahkan darah,di antara sesama.
"Kita melihat di dunia Arab, umat Islam saling membunuh satu sama lain. Indonesia punya banyak perbedaan aliran, bahasa berlainan, suku yang berbeda-beda, tapi bersatu menjadi satu bangsa. Di Arab cuma ada dua saja; Sunni dan Syiah, tapi terus bertengkar," katanya.
Dalam beberapa kasus,pihak-pihak yang saling membunuh ini didukung persenjataan dari belakang oleh dunia Barat dan orang-orang Yahudi di lain pihak. "Mereka mendukung umat Islam untuk saling bunuh. Karena mereka tak perlu repot membunuhi umat Islam, malah mereka dapat untung dengan menjual senjata," kata Mahathir.
Pilihan terhadap demokrasi sebagai sistem Negara kemudian seolah semakin menegaskan pertentangan diantara umat Islam. Padahal,dalam demokrasi, kesanggupan menerima kekalahan dalam Pemilu adalah penting. "Inilah yang terjadi di Negara maju dan demokratis. Yang kalah menerima kekalahan dan menerima kedudukan sebagai oposisi.
Mereka menunggu Pemilu yang akan datang untuk bertanding sekali lagi. Mereka mungkin memang tapi mungkin tidak. Tetapi hasil Pemilu mereka dihormati," kata Mahathir.
Tetapi demokrasi yang terjadi di banyak negara Islam seolah menyuburkan pertentangan di antara mereka yang berbeda kubu. Ketika ada pihak yang kalah dalam Pemilu maka akan menggelar demonstrasi besar-besaran yang bertujuan menjatuhkan pemerintahan hasil Pemilu.
Selanjutnya kondisi tersebut akan menjadi pemicu tidak stabilnya negara dan ekonomi. Nyatanya kondisi tersebut yang banyak terjadi di Negara yang banyak dihuni umat Islam.
Oleh karenanya Mahathir menekankan pentingnya sikap penerimaan terhadap kekalahan. Selain itu dua juga menekankan pentingnya tumpuan ekonomi tidak hanya pada pemerintah semata. Rakyat harus berdaya dan diberdayakan menjadi tumpuan perputaran ekonomi bangsa.
Karena memang rakyat memiliki kemampuan untuk itu, dan selayaknya pemerintah memfasilitasinya dengan berbagai cara. Berbicara tentang Islam,Mahathir juga menyinggung tentang negara Islam hal mana yang secara panjang lebar telah dikupasnya dalam blog pribadinya.
Menurutnya banyak orang tidak konsisten ketika berbicara tentang "negara Islam". Banyak Negara menyebut dirinya Negara Islam atau meletakkan nama Islam sebelum namanya, tapi ada yang menjadi Negara sekuler tetapi menganggapnya Islami. Dalam Organization of Islamic Conference (OIC) ada lebih dari 50 negara, tetapi masing-masing tidak memiliki konstitusi atau hukum yang berkualifikasi hukum Islam. Mereka bahkan tidak memiliki konstitusi Islam yang tertulis."Ketika saya mengklaim Malaysia sebagai negara Islam, saya membandingkannya dengan negara-negara Islam yang menerapkan hokum Islam secara ketat.
Tetapi hukum Islam tidaklah kaku dalam pemahaman seorang Muslim. Karena Islam membolehkan beberapa kelonggaran dan perbedaan interpretasi hingga Islam dapat dijalankan dalam kondisi yang berbeda-beda dan pada periode waktu yang berbeda pula.
Namun beberapa hal yang tidak boleh diganggugugat seperti syahadat umat Islam akan Allah SWT Tuhan Semesta Alam, dan Muhammad SAW sebagai utusannya," sebutnya. Oleh karenanya, perbedaan di dalam umat Islam tidak semestinya menjadi hal yang menghalangi persatuan dan kesatuan.
Perpecahan akibat perbedaan di dalam umat Islam tidak lain disebabkan oleh pemahaman lama yang sebenarnya tidak sesuai lagi dengan zaman kekinian. Pemahaman lama tersebut,dalam berbagai kasus masih terus dilestarikan oleh para murid-murid dan pengikut tertentu dan masih hidup ditengah-tengah kehidupan umat Islam.
Mahathir menekankan umat Islam untuk kembali kepada kesadaran untuk mendayagunakan akal pikiran,menjauhi perpecahan dan menguasai teknologi. Karena hal seperti inilah yang membuat umat Islam menjadi kuat dan punya kekuatan melawan orang-orang yang menindas umat Islam di berbagai negara."Kalau kita nak kuat, kita mesti mendayagunakan akal kita,"katanya. ( WSP )
"Indonesia punya banyak perbedaan aliran, bahasa berlainan, suku yang berbeda-beda, tapi bersatu menjadi bangsa. Di Arab cuma ada dua saja; Sunni dan Syiah, tapi terus bertengkar ***** Mahathir Mohamad *****


Anda sedang membaca artikel tentang

Perbedaan Umat Jangan Picu Perpecahan

Dengan url

https://kasihinfopenting.blogspot.com/2014/07/perbedaan-umat-jangan-picu-perpecahan.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Perbedaan Umat Jangan Picu Perpecahan

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Perbedaan Umat Jangan Picu Perpecahan

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger