Jakarta ( Berita ) : Otoritas Jasa Keuangan berharap Bank Indonesia tidak kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) karena dikhawatirkan pengetatan moneter tersebut dapat mengganggu pertumbuhan industri perbankan pada 2015.
"Janganlah, kasian kalau lebih tinggi lagi," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad setelah peluncuran "Arah Jalan Keuangan Berkelanjutan" di Jakarta, Jumat [05/12].Dari sisi tekanan global, menurut Muliaman, kebijakan normalisasi ekonomi Amerika Serikat yang sedang berjalan, juga tidak perlu terlalu dikhawatirkan dan direspon dengan penaikan kembali tingkat suku bunga, untuk membendung pembalikan arus modal. "Investor malah senang investasi disini, investasi di Indonesia, 'return' nya lebih tinggi," kata dia.
Tekanan likuiditas di pasar keuangan domestik, menurut Muliaman saat ini masih terkendali. Sejak Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 7,75 persen pada 18 November lalu, Muliaman mengaku belum melihat respon lanjutan dari industri pebankan. Bahkan, menurut Muliaman, perbankan malah cenderung menurunkan suku bunga. "Tekanan terhadap likuiditas relatif oke. Namun, jangka panjang terus kita lihat," kata dia.
Sejak pemerintah era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga BBM pada pertengahan 2013 lalu, Bank Indonesia mulai menerapakan kebijakan moneter ketat, salah satunya dengan instrumen BI Rate yang dinaikan di level 7,5 persen. Kebijakan itu juga seiring dengan dimulainya pengereman stimulus moneter dari Amerika Serikat.
BI menerapakan kebijakan moneter ketat untuk menyesuaikan laju pertumbuhan ekonomi agar sesuai dengan prinsip stabilitas ekonomi. Penyesuaian pertumbuhan ekonomi ini berlanjut untuk membendung potensi pembalikan dana dari Indonesia setelah Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve, Janet Yellen, memberi sinyal akan menaikkan suku bunga acuan dari 0,25 persen ke kisaran 1,4 persen.
Setelah Presiden Joko Widodo menaikkan kembali harga BBM sebesar Rp2.000, BI langsung merespon dengan mengadakan Rapat Dewan Gubernur dan kembali menaikkan BI Rate ke level 7,75 persen.
"Kebijakan tersebut dibuat demi menjaga kemajuan pengelolaan defisit transaksi berjalan ke arah yang lebih sehat, dan menjangkar inflasi di kisara empat plus minus satu persen," kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat itu. Namun, dampak dari pengetatan moneter itu dinilai akan melanda sektor perbankan dan rill.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Faisal Basri juga menilai Bank Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan sentimen global akibat kebijakan normalisasi ekonomi AS. Faisal menilai secara fundamental, perekonomian Indonesia memiliki ketahahan yang cukup kuat, terutama setelah kebijakan pengurangan subsidi BBM. Pengurangan subsidi BBM itu, dinilai Faisal, akan memberi ruang fiskal yang luas bagi pemerintah, dan membantu menyehatkan neraca transaksi berjalan. (ant )

Anda sedang membaca artikel tentang
OJK BerharaP BI Rate Tidak Naik Lagi
Dengan url
https://kasihinfopenting.blogspot.com/2014/12/ojk-berharap-bi-rate-tidak-naik-lagi.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
OJK BerharaP BI Rate Tidak Naik Lagi
namun jangan lupa untuk meletakkan link
OJK BerharaP BI Rate Tidak Naik Lagi
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar